Sharing cerita dan pengalaman latihan dan balap lari, review barang perlengkapan, dll.

Asics Gel Kayano 18 : Experience & Review

Kali ini sharing seputar pengalaman coba sepatu baru… dan reviewnya juga. Barang yang akan dibahas adalah… Sepatu Asics Gel-Kayano 18.

Saat itu, saya mengambil pelajaran dari SCHMI 10K kemarin yaitu cidera lutut akibat hentakan dari benturan permukaan jalan. Jadi, saya memberatkan prioritas pada cushioning atau bahan peredam sepatu. Untuk mendapatkan pilihan yang terlengkap, maka saya cari lewat internet.

Saat melihat daftar sepatu secara online, satu kata menarik hati saya : gel. Berdasarkan pengalaman saya dalam bersepeda, saya pernah menggunakan jok yang menggunakan gel. Bahan ini memang sangat lunak dan membuat alas pasti menjadi nyaman. Jadi, saya menitik beratkan adanya gel pada sepatu.

Saat mencoba mencarinya di Indonesia, ternyata sulit juga menemukan sepatu dengan gel ini. Kebetulan, ibu saya sedang bertugas di luar negeri sehingga saya minta tolong untuk membelikan satu. Berdasarkan ketersediaan dan ukuran yang tepat di tempatnya, akhirnya Asics Gel Kayano 18 menjadi pilihan satu-satunya saat itu.

Asics Gel Kayano 18 tergolong sepatu jangkauan pronasi luas, jadi dapat digunakan oleh varietas pronasi hampir apa saja. Sepatu ini tergolong “stuctured cushioning” dan memiliki rating cushioning 70% di runningwarehouse.com. Namun, beratnya yang sedikit meragukan, yaitu 11,7 ons atau sekitar 330 gram. Yah, memang ini sepatu cushioning, sehingga wajar dengan beratnya, malah berat tersebut tergolong ringan untuk sepatu dengan cushoning kelas ini.

525917_10151282160558810_2102478728_n

Saat dibawa pulang ke Indonesia, saya sangat senang. Bentuk yang hanya biasa dilihat di internet dalam bentuk gambar akhirnya nyata dan dapat dipakai. Warnanya dasarnya hitam, tapi terlihat begitu elegan dan estetil. Hinggalah, saya melihat ukurannya, yaitu 44 padahal yang sudah saya minta sebelumnya adalah 43. Namun Ibu saya mengatakan, pemilik toko sepatu lah yang menyarankan untuk naik satu nomor karena kecocokan ukuran universalnya. Bagaimanapun, memang terasa longgar sehingga kaki seperti tidak terkekang dengan baik di dalam sepatu.

Akhirnya, saya coba sepatu ini di jalan. Memang terasa beratnya yang lebih dari sepatu lari saya yang lama. Saat melangkah, mulai terasa ketidaknyamanannya. Lidah sepatu yang lunak dan mudah bergeser membuat urat kaki depan saya sepeti tertekan. Kulit sepatu yang juga lembek sepertinya kurang cocok untuk kaki saya ini. Lalu, fabrik pada bagian jari kelingking kiri selalu menekuk ke dalam sehingga menekan kulit dan membuat rasa tidak nyaman. Ukuran sepatu yang terasa terlalu longgar, membuat tumit selalu bergeser atas dan bawah sehingga memperlambat lari. Dan yang paling parah, grip sepatunya terasa licin sehingga setiap ingin menendang ke belakang, kaki seperti terpeleset dan menghasilkan dorongan yang lebih rendah. Dan baru saja berlari 1,5 km, kaki sudah terasa sangat tidak nyaman sehingga saya berhenti. Saat pulang, kaki saya terasa sedikit cidera karena membawa suatu beban yang lebih berat dari biasanya, yaitu berat sepatu.

Sulit dipercaya, karena sudah beli yang cukup mahal namun tidak cocok seperti ini. Takut mengecewakan orang tua, maka saya merahasiakan hasil review pengalaman pertama saya itu. Bagaimanapun, saya harus membuat sepatu ini agar dapat digunakan secara maksimal, dan memakainya di lari jarak jauh mendatang. Keluhan-keluhan di atas harus diatasi bagaimanapun caranya.

Pertama, saya coba memasukkan perban ke pojok sepatu sehingga menutupi bagian yang longgar. Memang rasa longgar sedikit terobati dan kaki terpasang lebih baik dalam sepatu. Namun, cara ini kurang praktikal untuk digunakan setiap kali lari, bahkan untuk menempuh jarak di atas 10 km pun saya ragu apakah dapat bertahan. Selain masalah kelonggaran, saya coba mengikat lidah sepatu ke salah satu pinggir, dan akhirnya masalah urat tertekan terselesaikan. Tali yang mengikat lidah ini juga membuat tali sepatu tidak mudah lepas ketika lari.

Setelah diperhatikan, memang sol dalam yang terlalu lunak lah yang juga membuat masalah. Kaki seperti terbenam saat melangkah sehingga menghasilkan ketidaknyamanan. Saya coba gunakan tanpa sol, memang terasa lebih responsif namun permukaan dalam yang rata dan licin serta interior sepatu yang bertambah longgar, membuat hal ini sepertinya bukan solusi. Bagaimanapun, saya berhasil berlari 8km dalam 40 menit dengan konfigurasi ini.

Tidak puas, maka saya coba menggunakan sol sepatu gunung saya yang lama di mana kontur kaki sudah tercetak dengan jelas. Memang, sangat nyaman dan membuat kaki tidak bergeser karena kelonggaran berkurang. Namun saya sadari sol yang sudah lama dipakai ini mungkin tidak bertahan lama lagi sehingga suatu saat, saya akan menggunakan sol bawaan sepatu ini kembali. Lagipun, tanpa sol bawaan tersebut, sepatu ini seperti kehilangan banyak kemampuan peredamamnnya.

Masalah lain juga sudah mulai terpecahkan. Fabrik yang sering tertekuk dapat diatasi dengan menarik lidah sepatu ke depan, juga mengatur keketatan tali sepatu bagian depan. Kaki yang longgar juga diatasi dengan mengetatkan tali sepatu bagian tengah dan paling ketat di bagian atas. Kulit sepatu yang lembek yang awalnya memberi masalah berbalik menjadi sangat nyaman karena menyesuaikan dengan kontur dan bentuk kaki. Terakhir, grip sepatu yang awalnya licin sekarang sudah bertambah kasat dan sangat mencengkram permukaan. Jadi, sudah saatnya mencoba menggunakan sepatu ini dengan konfigurasi orisinil pada lelarian jarak jauh.

Jadi, saya melakukan percobaan tersebut pada latihan jarak 8 mil (12,8 km). Hingga pertengahan awal, kaki terasa baik-baik saja. Mendekati 10 km, kaki saya terasa masih sejuk padahal dengan sepatu lain seharusnya mulai terasa panas di dalam sepatunya. Kaki juga mulai timbul lelah, namun dengan menginjak pada tumit walaupun posisi injakan tetap di bawah pinggang, setiap langkah terasa sangat lunak sehingga meningkatkan kenyamanan. Hentakan hampir tidak terasa sama sekali. Dan akhirnya, latihan tersebut merupakan sukses besar dengan sepatu ini.

Memang awalnya sepatu ini tidak nyaman. Namun hal tersebut karena begitu canggihnya sepatu ini, kaki belum terbiasa. Walaupun sedikit lama, begitu terbiasa sepatu ini memberikan kenyamanan dan performa yang mengagumkan. Dan seiring berjalannya waktu, kelonggaran tersebut tertutupi karena kaki yang melebar akibat latihan terus menerus dan jarak lari yang terus bertambah. Sepertinya sepatu ini adalah sepatu terbaik yang sangat nyaman digunakan, dengan tingkat yang jauh di atas sepatu lama saya yang awalnya lebih nyaman. Bahkan, akhrinya sepatu ini menjadi pilihan saya di setiap balap lari jalanan untuk jarak berapapun. Jadi, dalam mencoba sepatu baru, asal tipe pronasi dan ukurannya tepat, kenyamanan akan menyusul kemudian walaupun membutuhkan waktu.

–Review–

[Positif] :

-Ventilasi tinggi, terutama di bagian kaki depan

-Bahan peredam sangat baik dan tahan lama (gel)

-Stabil, walau jarang kali tetap keseleo

-Fabrik dan geometri sepatu yang menyesuaikan dengan bentuk kaki;

-Menghentak balik cukup kuat saat ditekuk

[Negatif] :

-Kekurangan cushioning di bagian tengah dan ke arah depan (padahal ini titik injakan yang baik)

-Tergolong berat jika dibandingkan seluruh sepatu lari

-Grip sepatu cenderung cepat terkikis

 

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>