Sharing cerita dan pengalaman latihan dan balap lari, review barang perlengkapan, dll.

SCHMI : Sebuah Kisah Permulaan Seorang Pelari [Part 2]

schmi2012Latihan 10K yang kedua tadi, seperti biasa menyisakan bekasnya, tentunya adalah… cidera. Saat menggerakkan telapak kaki muncul rasa ngilu, ternyata tendon yang bermasalah adalah yang pada bagian bawah kaki. Bagian jari yang serasa terjepit timbul kapalan seperti bekas lepuhan. Namun saya masih dapat berjalan kaki dengan normal, sehingga latihan dianggap sukses! Setelahnya cukup menunggu untuk memulihkan tubuh dari kelelahan dan cidera ringan tersebut, dengan syarat dalam waktu kurang dari seminggu.

Malam H-1 Lomba. Semua masalah fisik sudah tuntas pada saat itu, kecuali tendon kaki. Mempertimbangkan waktu perjalanan ke lokasi lomba yang jauh dan start yang awal, saya segera tidur. Banjir adrenalin sangat terasa pada malam itu, saya sempat kesulitan untuk memejamkan mata. Saat tidur nyenyak, tiba-tiba saya terbangun tengah malam, menyadari bahwa koyo cabe yang sedang dipakai untuk penyembuhan tendon, menyebabkan rasa perih yang sangat menusuk. Namun saat ingin tidur kembali setelah melepaskannya, saya tidak bisa. Tubuh yang baru saja tidur, ditambah efek dari meminum jus jahe pekat sebelumnya yang untuk penyembuhan juga, dan adrenalin yang masih mengalir deras menyebabkan tubuh sangat sulit memasuki alam tidur. Kondisi tubuh prima yang sangat dibutuhkan esok hari dalam keadaan terancam!

Walau sempat tidur kembali sebentar setelah kesulitan berjam-jam, saya terbangun kembali dalam keadaan ngantuk untuk mengejar jadwal perjalanan yang sudah molor. Saya segera bersiap-siap dan mengonsumsi sarapan serta beberapa “doping” alami anti kantuk (kopi, coklat, dll) lalu berangkat diantar ayah saya. Dengan sempat berhenti di jalan untuk solat subuh, dengan pemilihan jalur ke lokasi dan kecepatan tinggi, kami berhasil sampai di Green Office BSD City yaitu  titik start balapan, satu jam sebelum start.

Start 21K SCHMI 2012

Peserta 21K yang sudah bersiap terlebih dahulu sejak hari masih gelap. Terlihat di barisan depan, para atlet professional termasuk pelari Kenya

schmi2012start

Menunggu aba-aba ditembakan untuk peserta 10K

– Race Time! –

Pada jam 6, start untuk Lomba kategori 10K ditembakkan, setelah 15 menit dari start kategori 21K (Half-Marathon). Adrenalin yang sudah melonjak sebelumnya langsung meroket tinggi, menyebabkan tubuh ingin lari sekencang-kencangnya. Walaupun keinginan mengikuti strategi lari berkata lain, saya akhirnya berlari cepat juga sejajar dengan para pelari depan yang sebenarnya atlet. Walau sangat seru rasanya saya khawatir akan terkuras dari awal, saya melepas rombongan depan tadi, dan kembali pada pace nyaman.

Melihat kondisi tentunya saya tidak akan mendapatkan urutan 3 besar utama. Namun, kategori usia yang saya incar, yaitu usia 18 ke bawah. Berdasarkan pengamatan sebelum start, saya lihat para atlet tadi sudah bukan remaja lagi dan kemungkinan tidak ada saingan sekategori dalam rombongan tadi. Mindset saya cukup pada agar tidak tersusul pelari lain lagi yang terlihat sebaya. Banyak pelari lain yang tergolong cepat yang menyusul saya kemudian, namun tidak terlalu saya hiraukan. Bahkan, baru kilometer kedua saya sudah melakukan jeda jalan dengan mengikuti strategi untuk konservasi kekuatan, dengan melihat tidak ada “saingan” yang dekat.

Memasuki pos air minum pertama di perempat jalur, saya terus maju tanpa minum. Tidak ada rasa haus sama sekali karena tepat sebelum start sudah minum air isotonik sebotol. Karena itu, saya melewati saja tanpa be

Belum lama, mulai terlihat peserta 21K. Saya semakin terpacu untuk terus mendahului. Mulai muncul juga pelari 10K yang berada sekitar pada pace saya, dan mereka menjadi lawan saling susul juga walau bukan saingan sekategori usia.

Mendekati kilometer 4, tubuh saya serasa masih segar sehingga saya terus maju menembus pace 4,5 menit/km. Saingan 10K yang baru saya susul mendahului kembali, namun saya tidak mau kalah dan ingin menikmati balapan. Semakin banyak peserta kategori HM terlihat, ditambah pelari 10K se-pace lain, lari semakin seru!

Tak disangka, mulai timbul rasa pegal pada bagian persendian lutut depan kaki kanan. Baru beberapa meter, rasa pegal berubah menjadi rasa ngilu akibat besarnya impuls yang terus diterima kaki. Setiap injakan sangat terasa dan semakin terasa ngilunya. Saya menyadari, saya sudah mengalami cidera di pertengahan balapan. Walaupun segera sampai di pos minum kedua dan saya melakukan rehidrasi, cidera sudah parah dan tidak pulih. Setelah melakukan variasi gerakan hingga pijat pada bagian yang terkena, tidak kunjung hilang.

Akibat dari cidera tersebut, pace saya jatuh dan hanya bisa bergerak ngangkang. Dengan tekad untuk tetap mendapatkan peringkat pada kategori usia, saya tahan rasa sakit dan terus maju. Saya tetap berusaha tidak lambat karena takut tersusul kapan saja oleh pelari sekategori usia sehingga masih bisa terus mendahului peserta 21K.

Pada bagian pertengahan kedua balapan itu terasa seperti sangat panjang. Sekian jauh rasanya berlari tetapi sebenarnya belum seberapa jarak yang ditempuh. Pada tikungan pemisahan jalur 10K dan 21K, Gedung Office BSD City sudah terlihat, namun terasa begitu jauh dan tak kunjung tercapai. Terlihat banyak pelari 10K lain di belakang, dan saya tidak ingin tersusul walau tidak terlihat pelari yang sepertinya sekategori.

Setelah sekian lama rasanya menahan sakit dan capek yang semakin menumpuk dari usaha mempertahankan pace cepat, bertemulah saya di perempatan jalan menuju Gedung Office tersebut. Penonoton semakin banyak yang terlihat menyemangati siapa saja yang melewat. Seperti latihan dulu, tubuh terpacu untuk berlari secepatnya dengan hilangnya lelah cidera yang dirasakan. Langkah demi langkah, medekatkan saya hingga tikungan terakhir dari jalur.

Saat berbelok untuk terakhir kalinya di balapan ini, gapura finish terlihat. Mengabaikan semua beban dan rintangan yang ada dalam tubuh, saya terjun ke mode sprint. Semakin lama semakin kencang, tubuh serasa melayang. Mendongkrak semangat, saya sempat memekik. Matras sensor timer chip semakin dekat di depan saya.

Akhirnya, saya berhasil melewati garis finish 10K dengan catatan waktu 49 menit 15 detik! Tubuh yang sudah sangat habis terkuras menjadi lega, serasa hidup kembali. Belum pernah merasakan perasaan sepuas saat itu. Saya kemudian duduk-duduk menikmati pisang yang diberi panitia dan memandang medali finish di tangan. Lalu, cidera yang di lutut tadi timbul lagi rasanya, sangat menusuk untuk digerakkan saja, namun biar sajalah karena urusan sudah selesai…  Ayah saya juga mengatakan bahwa mungkin tidak ada pelari sekategori usia yang lebih dulu sampai dari saya, jadi tunggu saja sampai penganugerahannya.

Finished…  10K pertama & running race pertama.

Setelah penantian yang juga terasa cukup panjang, akhirnya pengumuman hasil waktu keluar. Awalnya saya melihat hasil keseluruhan lalu mencari pelari sekatogeri usia yang di atas saya. Ternyata ditemukan satu orang, dalam fikiran masih oke saja. Satu lagi ditemukan, saya mulai cemas. Perasaan tersebut menjadi nyata setelah saya melihat pelari sekategori yang ketiga. Pada pengumuman hasil perkategori usia juga, saya bertengger di posisis keempat. Dalam kata lain, saya tidak termasuk pemenang sama sekali…

schmi2012result0-18

Argh, so close!

Memang, tidak ada prestasi yang dapat diraih cepat begitu saja. Mungkin sebelum masa “latihan intensif” sebulan ini, saya juga sudah banyak latihannya, termasuk uphill sepeda rutin ke puncak pas dan pendidikan dasar pecinta alam. Tapi, itu masih belum sebanding dengan mereka yang sudah berlatih dengan banyak, juga tepat, khusus untuk tipe event ini. Bagaimanapun, oleh-oleh dari event ini berupa pengalaman, kekuatan, hasil waktu yang baik, dan penghargaan untuk finish sudah cukup bagi saya yang masih pemula saat itu.

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>