Sharing cerita dan pengalaman latihan dan balap lari, review barang perlengkapan, dll.

SCHMI : Sebuah Kisah Permulaan Seorang Pelari [Part 1]

schmi2012

Standard Chartered Half-Marathon Indonesia merupakan awal dari sejarah lari yang saya miliki hingga sekarang. Bermula di akhir September 2012, sebuah iklan mengenai event lari yang terpampang di facebook. Sebagai penggemar olahraga ketahanan yang mencari kesempatan berkompetisi, saya sangat tertarik. Apalagi habis kecewa deh, di bidang sepeda dengan ketidakpastian event balapannya padahal udah banyak persiapan latihan dan modal. Saya juga yang lagi buat aplikasi beasiswa, ingin mendapatkan prestasi sebanyak-banyaknya. Jadi, saya bertekad walau lomba lari pertama dan berjarak 10 km, saya ingin mencapai peringkat 3 besar agar dapat menjadi prestasi untuk salah satu bahan pertimbangan aplikasi beasiswa tersebut. Lagipun, ini juga bukan pertama kali saya ikut lomba olahraga ketahanan.

Latihan langsung dimulai begitu tahu tentang event tersebut. Dengan modal fisik yang sudah ada , saya sudah dapat berlari 6km dan mempertahankan pace pada 5 menit/km sehingga tidak perlu latihan yang banyak biar siap untuk 10 km. Yah, memang berkat dari “latihan” yang ala kadarnya di bidang sepeda, juga di bidang lari yang betul betul basa-basi saja sebelum-sebelum itu.

- First Attempt —  Lari 10K pertama -

Setelah beberapa kali melakukan lari 6km tersebut (dengan pola jadwal yang belum teratur) dan merasa cukup, segeralah saya berniat untuk mencoba lari jarak 10K untuk pertama kalinya. Saya bersegera supaya nanti tinggal berlatih untuk kecepatan, bukan menambah jarak lagi. Waktu itu juga memang tinggal sekian minggu saja sebelum hari-H.

Trek untuk latihan saya itu jalan belakang yang start dari rumah ke ujung komplek tetangga dengan jarak 5,9 km sekali bolak balik, dengan bonus tanjakan pada ujung putarannya. Untuk mencapai 10K, yang ada dalam mindset adalah cukup lari 5km jadinya ngehindarin tanjakan, lalu ulangi lagi. 2 kali putaran, urusan selesai. Sepatu yang saya gunakan juga merupakan sepatu trekking gunung, walau berat tapi layak pakai lari dan sangat nyaman di kaki sehingga gak cepat jadi capek. Jadi, saya percaya diri aja deh untuk mencoba jarak 10K itu.

Setelah mencari waktu yang tepat, akhirnya saya melakukan start untuk percobaan lari 10K tersebut. Pada loop pertama memang sedikit lebih mudah, karena jarak lebih singkat dan jalur selalu rata. Namun memasuki loop kedua, segera terasa mental down padahal masih belum mencapai 6km. Menembus jarak tersebut, mental menjadi sedikit lebih baik namun rasa haus segera menyerang. Sejak start, saya belum minum apapun karena nggak niat mengacaukan latihan dengan berhenti untuk jajan (memang nggak bawa uang juga), dan belum tahu trik naruh minuman depan rumah untuk rehidrasi sambil lari.

Sampai di pertengahan jalan putaran kedua, pegal di kaki mulai menggelegar, dan di kilometer 8, tendon persendian kaki kanan terasa ditarik kencang dan sakit. Belum tahu apa-apa tentang cidera akibat lari jarak 5 jauh, juga dengan permainan mental, saya terus melaju. Kilometer demi kilometer yang penuh perjuangan, akhirnya mulai mencapai di kompleks saya dan sesampainya di depan rumah, jarak 10K pertama dalam hidup berhasil dicapai.

Ternyata saya emang salah dalam prediksi kesiapan fisik untuk menaklukan 10K, gara-gara kepinginnya bersegera. Walau selesai dengan waktu 56 menit plus kelebihan jarak menjadi 10,5km dan tentunya kepuasan besar pada akhirnya, kaki kanan pada bagian persendian pinggang mengalami cidera yang tergolong lumayan. Tiap kali melangkah, terasa sakitnya di tendon tersebut. Jadi, saya harus mencoba lagi lari 10K yang berakhir tanpa cidera berat.

Saya yang masih pemula mengira cidera tersebut bakal hilang dalam hitungan hari, namun 4 hari kemudian saat ingin mencoba lari lagi, kaki masih gak kuat nahan beban tubuh yang dialami. Rasa sakit di tendon tersebut belum juga sembuh. Berhari-hari menunggu, akhirnya cidera tersebut pulih pada 2 minggu setelah lari 10K tersebut. Mungkin juga kesempurnaan pemulihan tadi karena bantuan dari cross training dengan budaya bike2school harian.

- Latihan H-2 minggu -

Sejak sembuh dari cidera tersebut, saya kembali berlatih lagi. Karena menunggu pemulihan, saya cuma punya waktu seminggu untuk latihan all-out sebelum masa tenang selama seminggu sebelum balapan. Sebagai latihan kecepatan, Saya juga mencoba latihan Interval tiga kali, sebelum berlatih jarak 10K kembali. Akibat waktu selingan yang pendek setelah speedwork 2 kali berturut-turut, Pada latihan-latihan 10K berikutnya saya gagal, sebanyak dua kali. Baru 5km, tubuh serasa tidak dapat berlari lagi. Saya juga memang sedang mencoba sepatu khusus lari saya yang pertama, lebih ringan namun berefek pada kenyamanan kaki sehingga terasa cepat lelah.

Memasuki hari terakhir masa aman latihan, sekali lagi saya berlari 10K pada pagi harinya. Kali ini, adik saya bersepeda mengekor untuk membantu rehidrasi. Berlatih setelah dua hari 5K berturut turut sehari sebelumnya memang berat. Baru loop pertama, seperti sebelumnya, tubuh serasa sudah terkuras, padahal waktu yang tercatat sekitar 24 menit. Berbekal mental, saya lanjut terus walau sangat ingin berhenti akibat lelah dan sempat down pada kilometer pertama loop kedua.

Loop kedua menjadi perjuangan yang sangat keras. Otot mulai pegal-pegal. Gara-gara mencoba sepatu baru, tendon kaki lagi-lagi berulah, ditambah jari jemari kaki terasa terjepit sehingga menghasilkan cubitan yang menusuk tiap kali melangkah. Saya minum lebih banyak daripada ketika loop pertama karena cuaca yang semakin memanas dan tubuh yang semakin terkuras. Namun saya tetap lanjut karena harus selesai sekarang atau tidak sama sekali. Setelah memutar ke arah rumah pada loop kedua, semangat tiba-tiba muncul. Segala rasa sakit dan pegal hilang, dan lari menjadi lebih cepat karena dorongan untuk finish, juga dengan waktu yang baik. Akhirnya, saya berhasil mencapai rumah kembali. Hasil waktu yang tercatat adalah 49 menit 50 detik dengan jarak tepat 10km.

, ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>